Terima Kasih Telah Mampir Di Blog MUHAMMAD KHAIRUL AMRY. Semoga apa yang sobat cari ditemukan disini. Jangan lupa kritik dan saran untuk perbaikan Blog ini kedepannya. Thankss...

Saturday, 22 June 2013

FILSAFAT STRUKTURALISME



PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang dan Pengertian Strukturalisme
Strukturalisme adalah faham atau pandangan yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Strukturalisme juga adalah sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakat dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950 hingga 1970, khususnya terjadi di Perancis. Strukturalisme berasal dari bahasa Inggris, structuralism; latin struere (membangung), structura berarti bentuk bangunan. Trend metodologis yang menyetapkan riset sebagai tugas menyingkapkan struktur objek-objek ini dikembangkan olerh para ahli humaniora. Strukturalisme berkembang pada abad 20, muncul sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu lain.
Strukturalisme sebagai aliran filsafat yang bereaksi terhadap subjektivisme yang didewakan oleh Eksistensialisme mempunyai ciri-ciri:
1.      “Desentralisasi” manusia.
2.      “Kematian” manusia sebagai subjek.
3.      Manusia dibicarakan dalam rangka struktur bahasa, sosial, ekonomi, dan politik.
Strukturalisme sebagai metode berpikir dalam memahami realitas dimulai oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913 M), seorang ahli Linguistik yang mempelajari bahasa dari sudut pandang strukturnya.
Menurut Ferdinand de Saussure Strukturalisme memiliki dua pengertian, yaitu:
1.      Strukturalisme adalah metode atau metodologi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip Linguistik.
2.      Strukturalisme adalah aliran filsafat yang hendak memahami manusia, sejarah dan kebudayaan serta hubungan kebudayaan dengan alam dengan memakai metode struktural. Strukturalisme menyelidiki pola-pola dasar yang tetap dalam berbgai realitas.



B.     Tokoh-Tokoh filsafat Strukturalisme
Adapun tokoh-tokoh filsafat Strukturalisme yang akan dibicarakan adalah Levi-Strauss, Jacques Lacan, Rolannd Barthes, Louis Althusser, dan Michel Foucault.
1.      Claude Levi-Strauss         
Claude Levi-Strauss merupakan pemikir Prancis yang erat kaitannya dengan Strukturalisme. Karena melalui karya-karyanya menjadi suatu aliran yang mendapat identitas sendiri. Bahkan sering juga Strauss sebagai “Bapak Strukturalisme Prancis”.
Ia mengibarkanwarna-warni Strukturalismenya pada beberapa judul bukunya: Struktur Elementer Kekerabatan atau  dua volume Antropologi Struktural. Komitmennya dalam Strukturalisme sangat terus terang dan total.
Strukturalisme adalah sebuah metode yang ia percayai sanggup menjadikan data-data empiris tentang institusi-institusi dalam kekerabatan dan mite-mite lebih dapat dipahami daripada sebelumnya. Pada kenyataannya, Strukturalisme melampaui penjelasan atau penguraian data-data belaka, karena dari data-data tersebut ia mengidentifikasikan sifat dasar spesifik dan universal dari pikiran manusia itu sendiri.
Sistem kekerabatan sebagaimana bahasa juga dikuasai oleh unsur-unsur atau atarun-aturan yang tidak disadari. Struktur simbolik kekerabatan, bahasa dan pertukaran barang menjadi kunci pemahaman tentang kehidupan sosial. Sistem kekerabatan adalah gejala kultural yang didasarkan atas incest, dan hubungan ini bukanlah suatu gejala yang alami.
2.      Jacques Lacan (1901-1981 M)
Lacan menerapkan metode Strukturalis untuk menganalisa pemikiran Freud. Semboyannya “kembalilah kepada Freud”. Bertitik tolak dari psikoanalisa Freud ia mengungkapkan bahwa:
a.       Manusia tidak dikuasai oleh unsur kesadaran, tetapi oleh unsur ketidak sadaran. Ketidak sadaran merupakan stuktur yang menguasai manusia.
b.      Mimpi, gejala, salah tindak merupakan siqnificant.
c.       Ketidak sadaran merupakan logos yang mendahului manusia dan manusia menyesuaikan diri dengannya.
Kesadaran manusia tidak dipandang sebagai pusat manusia yang mutlak dan otonom. Manusia seakan tergeser dari pusatnya. Freud menyatakan: “manusia tidak lagi tuan dan penguasa dalam rumahnya sendiri.”
Teori psikoanalitik Lacan untuk sebagian didasarkan pada penemuan Antropologi dan Linguistik Struktural. Salah satu keyakinan utama teori ini adalah bahwa bahwa ketidaksadaran merupakan struktur tersembunyi yang mirip dengan bahasa.
Lacan menegaskan bahwa ia merujuk kembali kepada Freud dalam artian ia mempertahankan dan mengembangkan konsep-konsep utama Freud untuk menciptakan  sisitem berpikir baru. Seorang analisis harus menghubungkan diri dengan ketidaksadaran dan ini berarti ia harus menjadi praktisi bahasa ketidaksadaran. Ketidaksadaran menurut Lacan adalah muncul dalam bentuk mimpi, kelakar, keseleo lidah. Ketidaksadaran memiliki struktur yang mirip bahasa. Bahkan Lacan mengatakan bahwa bahasa merupakan kondisi bagi ketidaksadaran, bahasa menciptakan dan membangkitkan ketidaksadaran.
3.      Roland Barthes (1915-1980 M)
Roland Barthes adalah pemikir yang ikut meramaikan pemikiran kesustraan. Ia adalah petualang dalam perumusan prinsip-prinsip baru untuk memahami kesustraan, dan selalu provokatif menyingkirkan yang dirasakannya sudah usang.
Karya Barthes The Fashion Syistem menjelaskan beberapa aspek pendekatan struktural atau semiotik terhadap analisis gejala sosial. Barthes memobilisasikan semua sumber daya teori Linguistik – khususnya bahasa sebagai suatu sistem perbedaan – untuk dapat mengenali bahasa mode dalam telaahnya tentang mode. Barthes menerapkan metode strukturalis untuk menganalisis perkembangan mode pakaian wanita. Mode pakaian sebagaimana bahasa juga memiliki struktur yang ditandai oleh sistem relasi-relasi dan oposisi-oposisi.
4.      Louis Althusser (1918-1990 M)
Althusser dikenal dengan sikap anti-humanisme. Althusser menentang                  gagasan bahwa individu itu ada sebelum munculnya kondisi-kondisi sosial. Kemudian dengan menggambarkan masyarakat sebagai suatu kesatuan struktural yang tersusun dari tingkatan-tingkatan otonom yang cara artikulasinya atau efektivitasnya ditentukan oleh ekonomi.
Menurut Louis Althusser manusia dalam pandangan Das Kapital telah tergeser dari pusatntya, manusia merupakan produk sekaligus sebagai dikuasai oleh struktur-struktur sosiso-ekonomi yang berasal dari luar dirinya, manusia bukan subjek otonom.
C.     Ciri-ciri Strukturalisme
Ciri-ciri Strukturalisme adalah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan tabiat, sifat-sifat yang terkait dengan suatu hal melalui pendidikan. Ciri-ciri itu bisa dilihat dari beberapa hal; hirarki, komponen atau unsur-unsur, terdapat metode, model teoritis yang jelas dan distingsi yang jelas.
Para ahli strukturalisme menentang eksistensialisme dan fenomenologi yang mereka anggap terlalu individualistis dan kurang ilmiah. Salah satu yang terkenal adalah pandangan Maurice Meleau-Ponty yang menentang fenomenologi dan eksistensialisme tubuh manusia. Pounty menekankan bahwa hal yang fundamental dalam identitas manusia adalah bahwa kita adalah objek-objek fisik yang masing-masing memiliki kedudukan yang berbeda-beda dan unik dalam ruang dan waktu

PENUTUP
Strukturalisme adalah faham atau pandangan yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudayaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap
Strukturalisme sebagai aliran filsafat yang bereaksi terhadap subjektivisme yang didewakan oleh Eksistensialisme mempunyai ciri-ciri:
1.      “Desentralisasi” manusia.
2.      “Kematian” manusia sebagai subjek.
3.      Manusia dibicarakan dalam rangka struktur bahasa, sosial, ekonomi, dan        politik

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), 2009
Lorens Bagus., Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia), 2000
Munir, Misnal. Aliran-aliran  utama filsafat barat kontemporer. (Yogyakarta: LIMA). 2008
http://id.wikipedia.org/wiki/Strukturalisme

Sunday, 2 June 2013

FILSAFAT HUMANISME DAN EKSISTENSIALISME




Tokoh humanis yang muncul adalah J.J Rousseu. Tokoh ini mengutamakan pandangan tentang perkembangan alamiah manusia sebagai metode untuk mencoba keparipurnaan tujuan-tujuan pendidikan.
Pada abad 20 terjadi perkembangan humanistic yang disebut humanisme kontemporer. Humanisme kontemporer merupakan reaksi protes atau gerakan protes terhadap dominasi kekuatan-kekuatan yang mengancam eksistensi nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri manusia di era modern. Perkembangan lebih lanjut dari filsafat humanis ini adalah berkenaan dengan peran dan kontribusi filsafat eksistensialisme yang cukup memberikan kontribusi dalam filsafat pendidikan humanistic.
Pemikiran filsafat eksistensialisme menyebutkan bahwa:
1.      mannusia memilki keberadaan yang unik dalam dirinya berbeda antara mannusia satu dengan manusia lain. Dalam hal ini telaah tentang manusia diarahkan pada individualitas manusia sebagai unit analisisnya.
2.      Eksistensialis lebih memperhatiakn pemahaman makna dan tujuan hidup manusia ketimbang melakukan pemahaman terhadap kajian-kajian ilmiah, dan metafisika tentang alam semesta.
3.      Kebebasan individu sebagai milik manusia adalah sesuatu yang paling utama dan paling unik, karena setiap individu memilki kebebasan untuk memilki sikap hidup, tujuan hidup dan cara hidup sendiri (Stevenson dalam Hanurawan,2006)

Aliran filsafat eksistensialis ini kemudian dikembangkan dalam dunia pendidikan karena fungsi pendidikan adalah memberikan proses perkembangan manusia secara otentik. Manusia otentik adalah manusia yang dalam kepribadian diri memilki tanggung jawab dan kesadaran diri untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup dalam alam hidup modern

Kedua aliran tersebut memberikan perkembangan pada aliran filsafat pendidikan humanisme. Hal ini dapat ditunjukan melalui pengembangan konsep perkembangan psikologis peserta didik dan metode pengajaran yang sesuai dengan perkembangan humanistic setiap individu.

Aliran psikologi humanistic memiliki pandangan tentang manusia yang memilki keunikan tersendiri, memilki potensi yang perlu diaktualisasikan dan memilki dorongan-dorongan yang murni berasal dari dalam dirinya. Individu manusia yang telah bersasal dari dirinya (Hanurawan,2006).
2.      Konsep Pemikiran Filsafat Psikologi Humanistik
Konsep pemikiran filsafat psikologi humanistic yang dikemukakan oleh filsuf humanis meliputi pandangan tentang hakeket manusia, pandangan tentang kebebasan dan otonomi manusia, konsep diri (self concept), dan diri individu serta aktualisasi diri (Hanurawan,2006). Konsep pemikiran tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1.      Pandangan tentang hakekat manusia
Hakekat manusia dalam pandangan filosuf humanistic adalah manusia memilki hakekat kebaikan dalam dirinya. Dalam hal ini apabila manusia berada dalam lingkungan yang kondusif bagi perkembangan potensialitas dan diberi semacam kebebasan untuk berkembang maka mereka akan mampu untuk mengaktualisasikan atau merealisasikan sikap dan perilaku yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan masyarakat pada umumnya (Hanurawan,2006).
2.      Pandangan tentang kebebasan dan otonomi manusia
Penganut aliran humanistic memberikan pandangan bahwa setiap manusia memilki kebebasan dan otonomi memberikan konsekuensi langsung pada pandangan terhadap individualitas manusia dan potensialitas manusia. Individualitas manusia yang unik dalam diri setiap pribadi harus dihormati. Berdasarkan pandangan ini, salah satu upaya pengembangan sumber daya manusia yang perlu dilakukan dalam proses pendidikan untuk mencapai hasil yang maksimal adalah pemberian kesempatan kepada berkembangnya aspek-aspek yang ada dalam diri individu.
3.      Pandangan tentang diri (the self) dan konsep diri (self concept)
Diri (the self) menurut penganut filsafat humanis merupakan pusat kepribadian yang pengembangannya dapat dipenuhi melalui proses aktualisasi potensi-potensi yang dimiliki seseorang. Diri (the self) yang ada dalam diri seseorang digambarkan sebagai jumlah keseluruhan yang utuh dalam diri individu yang dapat membedakan diri seseorang dengan orang lain. (Ellias dan Meriam dalam Hanurawan, 2006).
Dalam diri (the self) seseorang terdapat perasaa, sikap, kecerdasan, intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan karakteristik fisik.
Sedangkan konsep diri (self concept) menurut Kendler dalam Hanurawan 2006 merupakan keseluruhan presepsi dan penilaian subyektif yang memiliki fungsi menentukan tingkah laku dan memiliki pengaruh yang cukup besar untuk tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan perkembangan individu merupakan potensialitas individu untuk aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan kemampuan manusia menghadirkan diri secara nyata (menurut maslow dalam Hanurawan 2006). Aktualisasi diri terwujud dalam ………….. manusia untuk memperoleh pemenuhan diri (self fulfillment) sesuai dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Dengan aktualisasi diri, manusia mampu mengembang keunukan kemanusiaannya guna meningkat kualitas kehidupan serta dapat mengubah situasi kea rah yang lebih baik.
3.      Implikasi Pendidikan Psikologi Humanis dalam Prose Pendidikan
Pandangan utama aliran filosofis pendidikan humanistic adalah proses pendidikan berpusat pada subyek didik. Roger dalam Dimyati dan Mudjiono (2002) berpendapat belajar akan optimal apabila siswa terlibat secara penuh dan sungguh serta berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar. Proses pendidikan berpusat pada subyek didik, dalam hal ini peran guru dalam proses pendidikan sebagai fasiltator dan proses pembelajaran dalam kontek proses penemuan yang bersifat mandiri (Hanurawan,2006). Searah dengan pandangan tersebut maka hakekat pendidik adalah fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk itu seorang pendidik harus mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar mandiri. Proses belajar hendaknya merupakan kegiatan untuk mengeksploitasi diri yang memungkinkan pengembangan keterlibatan secara aktif subyek didik untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman belajar.
            Berdasarkan hal tersebut diatas maka system belajar yang cocok untuk pendidikan humanis ini adalah Enquiry Discovery yakni belajar penyelidikan dan penemuan. Dalam proses belajar mengajar system Enquiry Discovery ini guru tidak akan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk final, dengan kata lain guru hanya menyajikan sebagian, selebihnya siswa yang mencari atau menemukan sendiri.
Adapun tahapan dalam prosedur Enquiry Discovery adalah:
1.      Stimulation (stimulasi/ pemberi rangsangan), yakni memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, aktifitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2.      Problem statement (pernyataan / identifikasi masalah), yakni memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasikan sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian dipilih salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis.
3.      Data collection (pengumpulan data), yakni memberi kesempatan kepad para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
4.      Data prosesing (pengolahan data), yakni mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sabagainya lalu ditafsirkan.
5.      Verification (pentahkikan), yakni melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dihubungkan dengan data prosesing.
6.      Generalization (generalisasi), yakni menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum.( Syah, Muhibbin,2004)
            Melalui pembelajaran Enquiry Discovery / penemuan menurut Hanurawan (2006) akan dapat membawa pengalaman pada diri pembelajar dalam mengidentifikasi, memahami masalah-masalah yang dihadapi sehingga menemukan sesuatu pengetahuan yang bermakna bagi dirinya.
            Seperti telah dikemukakan diatas, dalam proses pembelajaran dengan enqiry discovery ini guru berperan sebagai fasilitator. Menurut Hanurawan (2006) fungsi tugas kefasilitatoran guru dalam KBM harus dapat menumbuhkan keyakinan dalam diri pebelajar dalam kegiatan yang dilakukan. Yang berarti guru harus dapat menstimulus pebelajar untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan kontek pembelajaran humanistic menurut Maslow bahwa guru adalah pembantu sekaligus mitra dalam melakukan aktualisasi diri.
Peran guru sebagai fasilitator menurut Abu dan Supriono,W (2004) dapat diwujudkan dengan memperhatiakan penciptaan suasana awal, situasi kelompok atau pengalaman kelas, memperjelas tujuan di dalam kelas. Menyediakan sumber-sumber belajar untuk dimanfaatkan pebelajar dalam rangka mencapai tujuannya, dan mengambil prakarsa untuk ikut dalam kelompok kelas.
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran menurut pandangan psikologi humanistic yaitu
1.      Setiap individu mempunyai kemampuan bawaan untuk belajar.
2.      Belajar akan bermanfaat bila siswa menyadari manfaatnya.
3.      Belajar akan berarti bila dilakukan lewat pengalaman sendiri dan uji coba sendiri.
4.      Belajar dengan prakarasa sendiri penuh kesadaran dan kemampuan dapat berlangsung lama dan
5.      Kreatifitas dan kepercayaan dari orang lain tumbuh dari suasana kebebasan.
6.      Belajar akan berhasil bila siswa berpartisipasi secara aktif dan disiplin setiap kegiatan belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi dan Supriono W. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta. PT Rineka Cipta.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. PT Rineka Cipta.

SYEKH DJAMIL DJAMBEK


Syekh Djamil Djambek 
Ole
M. khairul amri
ferdi ferdian 

Muhammad Jamil dilahirkan pada tanggal 4 Januari 1863 di Kurai Bukittinggi. Berasal dan keluarga bangsawan. Ayahnya, Muhammad Saleh Dt. Maleka dan biasa dipanggil "Inyiak Kapalo Jambek" adalah seorang kepala nagari Kurai yang cukup disegani. Selain sebagai kepala nagari Kurai, ayah Muhammad Jamil juga berperan sebagai seorang datuak dalam suku Guci. Sedangkan ibunya, seorang transmigran dan Jawa, populer dipanggil dengan panggilan Cik. Muhammad Jamil memiliki seorang adik bernama Muhammad Mu'thi. Status ibunya yang secara genealogis bukan berasal dari Minangkabau yang matrilineal, membuat Muhammad Jamil bersama adiknya berada diluar garis keturunan. Namun oleh ayahnya, Dt. Maleka, hal demikian tidak dibiarkannya. Melalui upacara adat menurut tradisi yang berlaku di Minangkabau pada masa itu, ia kemudian memasukkan anak-anaknya tersebut ke dalam lingkungan sukunya sendiri, suku Guci. Status sosial yang mapan ditambah lagi dengan kurangnya dukungan pendidikan agama dari orang tuanya membuat Muhammad Jamil dikenal sebagai seorang yang nakal pada masa kecilnya. Kenakalan ini berlanjut hingga remaja. Ia terjerumus kepada kehidupan hedonistik seperti suka berfoya-foya, penjudi, dan peminum tuak, Dukungan finansial dan status sebagai warga terpandang mempermudah pola perilaku kehidupan seperti ini bagi Muhammad Jamil.
Pendidikan awal Muhammad Jamil dilaluinya di Sekolah Rendah Gubernement di Bukittinggi. Walaupun Muhammad Jamil memasuki sekolah ini pada usia 7 tahun, agaknya kurang menjamin bagi perobahan watak dan talenta-nya yang cenderung destruktif, hedonistik dan "keras kepala". Hal ini terlihat, setelah ia menamatkan pendidikannya di Sekolah Rendah ini, Muhammad Jamil tidak memiliki keinginan sama sekali untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Orang tuanya yang memiliki kelebihan materi tidak mampu membujuknya agar melanjutkan pendidikannya. Ia malahan, sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, kembali ke "habitat" awalnya dan memasuki pergaulan bebas pada masa itu. Ia telah terlanjur bangga disebut sebagai seorang parewa2 dan pamakan masak patah, suatu sebutan yang diidentikkan dengan parewa yang tidak mengenal aturan-aturan adat dan agama. Setelah Muhammad Jamil Jambek berumur 22 tahun, atas nasehat dari Tuangku Kayo Mandiangin, ia mulai berubah. Ia mulai mau belajar pendidikan agama, walaupun tingkat dasar. Suatu hal yang terlambat pada masa itu bagi anak-anak Minangkabau untuk seorang seusia Muhammad Jamil Jambek. Melalui Tuangku Mandiangin ini, ia belajar membaca al-Qur'an, belajar sholat dan mulai belajar bahasa Arab (Nahu Sharaf). Lambat laun, dengan mempelajari agama tingkat standar, Muhammad Jamil Jambek mulai menyadari bahwa rentang waktu masa kecil hingga remajanya adalah rentang waktu yang "mubazir". Keinginannnya untuk memperbaiki diri dan belajar agama Islam secara intens makin menggebu-gebu. Ketika ia berumur 25 tahun, ayahnya pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Muhammad Jamil Jambek dibawa serta. Selama di Mekkah ini, ia memanfaatkan waktu untuk belajar pengetahuan agama kepada ulama-ulama disana. Pada awalnya, ia hampir terjebak untuk kembali kepada pola hidup waktu remajanya. Hal ini disebabkan karena ia terayu belajar ilmu sihir dari seorang keturunan Maroko. Namun berkat pengarahan-pengarahan yang diterimanya dad Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawy, Muhammad Jamil kembali ingat dengan tekadnya ketika ia berada dibawah tuntunan Tuangku Kayo Mandiangin dan tekadnya untuk belajar agama Islam ketika ia mau berangkat ke Mekkah.

            Selanjutnya, dengan antusias Muhammad Jamil Jambek belajar pada ulama-ulama yang cukup terkenal dan pintar pada masa itu, diantaranya H. Abdullah Ahmad, Syekh Bafadhal, Syekh Serawak, Khatib Kumango clan Syekh Thaher Jalaluddin. Dari ulama yang terakhir ini, ia belajar ilmu falak. Pelajaran yang diperolehnya dad Syekh Thaher Jalaluddin ini menempatkan ia dikenal sebagai ahli falak yang termasyhur di Minangkabau pada masanya. Kehidupan Muhammad Jamil Jambek yang kemudian dipanggil Syekh Muhammad Jamil Jambek penuh dengan dinamika. Pribadi kontroversial pada awalnya, akibat hidayah dari Allah SWT. dan keinginan yang keras untuk merubah dirinya ke arah yang lebih baik, pada akhimya menjadikan ia menjadi putra terbaik yang pemah dimiliki Minangkabau.

            Diskusi mengenai pembaharuan Islam di Minangkabau berarti secara tidak langsung menguak kembali aspek-aspek awal bagi pembaharuan Islam di Nusantara ini. Gerakan pembaharuan ini pada dasarnya adalah merupakan akibat logis dari ketidakpuasan terhadap pengamalan ajaran agama Islam yang telah melenceng dari ajaran yang sesungguhnya. Praktek-praktek khurafat merajalela. Disamping itu, timbul ketidakpuasan ulama pembaharu terhadap sistem sosial di Minangkabau dimana pihak mamak lebih besar peranannya dari Bapak yang timbul dari sistem garis keturunan matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Gerakan pembaharuan agama pada permulaan abad ke-XIX M. Gerakan ini kemudian disebut dengan gerakan Paderi, sebagai bentuk gelombang pertama pembaharuan Islam di Minangkabau. Gelombang pembaharuan gelombang kedua terjadi pada permulaan abad ke-XX M. Gerakan ini, disamping merupakan gerakan pemurnian aqidah, lebih jauh merupakan pembaharuan sistem pendidikan dan pemumian pelaksanaan hukum Islam. Sebagai pemeran utama dalam gerakan pembaharuan Islam gelombang kedua di Minangkabau adalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawy, seorang putra Minangkabau yang aktivitas hingga akhir hayatnya dijalankannya di Mekkah. Sebagai "otak" dari pembaharuan Islam di Minangkabau ini, ia tidak terjun secara iangsung, akan tetapi pemikiran-pemikirannya lebih banyak disebarkan melalui murid-mundnya seperti H. Abdul Karim Amrullah (HAKA), H. Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Jamil Jambek, H. Muhammad Thaib Umar dan lain-lain.
Syekh Muhammad Jamil Jambek sebagai salah seorang ulama pembaharu yang bergandengan dengan H. Abdul Karim Amrullah dan H. Abdullah Ahmad. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan ini Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah merupakan tokoh yang unik, la seolah-olah tidak begitu kelihatan dalam sejarah pendidikan pada dekade ini, oleh karena dari aktifitasnya tidak dibarengi dengan wadah pendidikan yang ia dirikan seperti yang dilakukan oleh teman-temannya yang lain. Walaupun pada saat-saat tertentu dan tidak begitu lama, Syekh Muhammad Jamil Jambek pemah juga memperkenalkan sistem pendidikan. Hal ini dilakukakannya setelah ia kembali dari Mekkah, di surau yang ia dirikan sendiri, yaitu di kawasan Tengah Sawah Bukittinggi.
Keterlibatan Syekh Muhammad Jamil Jambek dalam dunia politik secara intens berawal dari diperkenalkannya kebijakan Goeroe Ordonantie. Dr. de Vries dari kantor Advisieur Inlandsche Zaken datang ke Minangkabau untuk menyusupkan kebijakan Goeroe Ordonantie ini. Kebijakan ini dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru yang akan mengajar agama memiliki izin dari pemerintah. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengawasi sistem pendidikan Islam di Indonesia. Peraturan ini sempat diubah pada tahun 1925 dengan hanya mewajibkan para guru agama memberitahu kepada pemerintah. Misi yang dibawa Vries ini mendapat tantangan yang sangat keras dari tokoh-tokoh terkemuka Minangkabau masa itu, terutama dari kalangan ulama. Orang terdepan dalam soal ini adalah H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Dan agaknya beliau pulalah yang paling keras menantang diantara Trio Ulama pembaharu seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek dan Abdullah Ahmad. Syekh Muhammad Jamil Jambek kurang berani menyatakan ketegasannya dalam menolak kebijakan tersebut walaupun rapat-rapat untuk membicarakan hal ini dilaksanakan di surau beliau sendiri. Tentang sikap Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih jauh Hamka menjelaskan :"Kalau yang akan dibicarakan disurau beliau itu agak "hangat", maka beliau akan "demam" pada hari itu" (Hamka, 1982: 280). Ketidaktegasan Syekh Muhammad Jamil Jambek menyikapi kebijakan Goeroe Ordonansi ini pada hakikatnya karena posisinya yang cukup dilematis. Beliau memiliki hubungan yang cukup baik dengan pemerintah kolonial Belanda. Lebih lanjut Hamka mengatakan : "lebih baik dan lebih untung baginya, sebab dia sakit dihari itu, sebab baginya serba sulit. Hubungannya dengan pemerintah Belanda amat baik. Dia beroleh bintang".
Sistem politik pada ja;ur pendidikan ini disadari oleh kaum ulama pembaharu sebagai bahaya yang mengancam wadah dan sistem pendidikan agama. Lembaga-lembaga pendidikan Islam satu per-satu mulai ditinggalkan. Masyarakat mulai banyak mengarahkan perhatian mereka pada pendidikan barat yang menawarkan prospek-prospek yang baik terhadap masa depan. Altematif satu-satunya bagi ummat Islam saat ini adalah membenahi sistem pendidikan Islam. Berbagai konsepsi para ulama tentang pembaharuan pendidikan mulai pula diterapkan pada lembaga-lembaga pendidikan yang ada serta mendirikan sekolah-sekolah agama dengan sistem pengajaran yang tidak lagi menganut sistem belajar tradisional, demikian juga kurikulum pengajarannya mulai mendapat perhatian.
Di tengah gejolak semangat pembaharuan Islam dibidang pendidikan dan saat perhatian kalangan ulama terfokus untuk membenahi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada, Syekh Muhammad Jamil Jambek mengambil konsep lain dalam bidang ini. Ia berusaha memperlihatkan bahwa pengajaran agama Islam ini adalah hak semua orang yang mengaku beragama Islam bukan terbatas pada kalangan-kalangan tertentu yang terjangkau oleh fasilitas-fasilitas lembaga-lembaga pendidikan, la memiliki konsep pendidikan yang dijalankan dalam bentuk dakwah, tabligh dan ceramah. Konsep ini menurutnya adalah merupakan cara yang efisien untuk pemerataan pendidikan agama terhadap masyarakat yang terdiri dari dari berbagai lapisan dan tingkat pengetahuan, mulai dari yang tidak tahu tulis baca hingga kepada kalangan masyarakat berpendidikan dan juga dari berbagai tingkatan sosial clan ekonomi.

            Di suraunya di kawasan Tengah Sawah Bikittinggi, sampai saat ini sekali dalam seminggu diadakan jama'ah tetap yang khusus mempelajari ilmu-ilmu keagamaan. Pengikut jama'ah pengajian ini tidak saja berasal dari Bukittinggi akan tetapi juga berasal dari daerah-daerah disekitar Bukittinggi. Jama'ah pengajian ini sekarang dipimpin oleh anak Syekh Muhammad Jamil Jambek, Djamilah Jambek, tetap mempertahankan pola dan karakteristik pengajian yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Jamil Jambek.


            Kekuatan lain yang terdapat pada Syekh Muhammad Jamil Jambek adalah kemampuannya dalam bidang ilmu falak.
Kemampuan ini telah menempatkannya pada posisi perintis pengembangan ilmu ini di Indonesia. Hal yang demikian dapat dilihat dari buah karyanya, baik dar hasil perhitungan hisab yang ia keluarkan, maupun murid­-muridnya yang pada saat ini cukup dikenal dengan hasil perhitungan hisabnya di Indonesia. Konsep dan usaha Syekh Muhammad Jamil Jambek baik dalam bidang pendidikan agama maupun pada bidang ilmu falak, dalam skala yang luas tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan di Indonesia. Apa yang telah ia perbuat bagi masyarakatnya di Bukittinggi khususnya dan Minangkabau pada umumnya, baik sebagai ulama pelopor pendidikan melalui dakwah dan tabligh maupun sebagai ulama pembaharu Islam yang menonjol dalam bidang ilmu falak --- sebagai ilmu yang langka dimiliki oleh ulama-­ulama seangkatannya -- telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan agama Islam dalam perkembangan sejarahnya di Indonesia.
Syekh Muhammad Jamil Jambek pemah juga memperkenalkan sistem pendidikan. Hal ini dilakukakannya setelah ia kembali dari Mekkah, di surau yang ia dirikan sendiri, yaitu di kawasan Tengah Sawah Bukittinggi.
Keterlibatan Syekh Muhammad Jamil Jambek dalam dunia politik secara intens berawal dari diperkenalkannya kebijakan Goeroe Ordonantie. Dr. de Vries dari kantor Advisieur Inlandsche Zaken datang ke Minangkabau untuk menyusupkan kebijakan Goeroe Ordonantie ini. Kebijakan ini dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru yang akan mengajar agama memiliki izin dari pemerintah. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengawasi sistem pendidikan Islam di Indonesia. Peraturan ini sempat diubah pada tahun 1925 dengan hanya mewajibkan para guru agama memberitahu kepada pemerintah. Misi yang dibawa Vries ini mendapat tantangan yang sangat keras dari tokoh-tokoh terkemuka Minangkabau masa itu, terutama dari kalangan ulama. Orang terdepan dalam soal ini adalah H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Dan agaknya beliau pulalah yang paling keras menantang diantara Trio Ulama pembaharu seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek dan Abdullah Ahmad. Syekh Muhammad Jamil Jambek kurang berani menyatakan ketegasannya dalam menolak kebijakan tersebut walaupun rapat-rapat untuk membicarakan hal ini dilaksanakan di surau beliau sendiri. Tentang sikap Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih jauh Hamka menjelaskan :"Kalau yang akan dibicarakan disurau beliau itu agak "hangat", maka beliau akan "demam" pada hari itu" (Hamka, 1982: 280). Ketidaktegasan Syekh Muhammad Jamil Jambek menyikapi kebijakan Goeroe Ordonansi ini pada hakikatnya karena posisinya yang cukup dilematis. Beliau memiliki hubungan yang cukup baik dengan pemerintah kolonial Belanda. Lebih lanjut Hamka mengatakan : "lebih baik dan lebih untung baginya, sebab dia sakit dihari itu, sebab baginya serba sulit. Hubungannya dengan pemerintah Belanda amat baik. Dia beroleh bintang".
Di suraunya di kawasan Tengah Sawah Bikittinggi, sampai saat ini sekali dalam seminggu diadakan jama'ah tetap yang khusus mempelajari ilmu-ilmu keagamaan. Pengikut jama'ah pengajian ini tidak saja berasal dari Bukittinggi akan tetapi juga berasal dari daerah-daerah disekitar Bukittinggi. Jama'ah pengajian ini sekarang dipimpin oleh anak Syekh Muhammad Jamil Jambek, Djamilah Jambek, tetap mempertahankan pola dan karakteristik pengajian yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Jamil Jambek.

            Kekuatan lain yang terdapat pada Syekh Muhammad Jamil Jambek adalah kemampuannya dalam bidang ilmu falak.
Kemampuan ini telah menempatkannya pada posisi perintis pengembangan ilmu ini di Indonesia. Hal yang demikian dapat dilihat dari buah karyanya, baik dar hasil perhitungan hisab yang ia keluarkan, maupun murid­-muridnya yang pada saat ini cukup dikenal dengan hasil perhitungan hisabnya di Indonesia. Konsep dan usaha Syekh Muhammad Jamil Jambek baik dalam bidang pendidikan agama maupun pada bidang ilmu falak, dalam skala yang luas tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan di Indonesia. Apa yang telah ia perbuat bagi masyarakatnya di Bukittinggi khususnya dan Minangkabau pada umumnya, baik sebagai ulama pelopor pendidikan melalui dakwah dan tabligh maupun sebagai ulama pembaharu Islam yang menonjol dalam bidang ilmu falak --- sebagai ilmu yang langka dimiliki oleh ulama-­ulama seangkatannya -- telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan agama Islam dalam perkembangan sejarahnya di Indonesia.


Powered by Blogger.