Terima Kasih Telah Mampir Di Blog MUHAMMAD KHAIRUL AMRY. Semoga apa yang sobat cari ditemukan disini. Jangan lupa kritik dan saran untuk perbaikan Blog ini kedepannya. Thankss...
Powered By Blogger
Showing posts with label MINANG KABAU. Show all posts
Showing posts with label MINANG KABAU. Show all posts

Friday, 6 December 2013

15 Tokoh Minangkabau



1. Mohammad Hatta

http://kamarche99.files.wordpress.com/2008/12/bung_hatta.jpg

H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya ia telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang. Baru pada tahun 1919 ia pergi ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang "Prins Hendrik School". Ia menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Universitas Erasmus). Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun. 

2. Mohammad Yamin
http://maulidamulyarahmawati.files.wordpress.com/2009/09/m_yamin.jpg

Mr. Prof. Muhammad Yamin, SH (lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903 – meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Talawi, Sawahlunto

Dilahirkan di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Yamin memulai karier sebagai seorang penulis pada dekade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan. Karya-karya pertamanya ditulis dalam bahasa Melayu dalam jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbahasa Belanda, pada tahun 1920. Karya-karyanya yang awal masih terikat kepada bentuk-bentuk bahasa Melayu Klasik.

Pada tahun 1922, Yamin muncul buat pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, Tanah Air ; maksud "tanah air"-nya ialah Sumatera. Tanah Air merupakan himpunan puisi modern Melayu yang pertama yang pernah diterbitkan. Sitti Nurbaya, novel modern pertama dalam bahasa Melayu juga muncul pada tahun yang sama, tetapi ditulis oleh Marah Rusli yang juga merupakan seorang Minangkabau. Karya-karya Rusli mengalami masa kepopuleran selama sepuluh tahun .

Pada tahun 1932, Yamin memperoleh ijazahnya dalam bidang hukum di Jakarta. Ia kemudian bekerja dalam bidang hukum di Jakarta sehingga tahun 1942. Karier politiknya dimulai dan beliau giat dalam gerakan-gerakan nasionalis. Pada tahun 1928, Kongres Pemuda II menetapkan bahasa Indonesia, yang berasal dari bahasa Melayu, sebagai bahasa gerakan nasionalis Indonesia. Melalui pertubuhan Indonesia Muda, Yamin mendesak supaya bahasa Indonesia dijadikan asas untuk sebuah bahasa kebangsaan. Oleh itu, bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi serta alat utama dalam kesusasteraan inovatif.

Semasa pendudukan Jepang antara tahun 1942 dan 1945, Yamin bertugas pada Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintah Jepang. Pada tahun 1945, beliau mencadangkan bahwa sebuah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) diasaskan serta juga bahwa negara yang baru mencakup Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, serta juga kesemua wilayah Hindia Belanda. Sukarno yang juga merupakan anggota BPUPK menyokong Yamin. Sukarno menjadi presiden Republik Indonesia yang pertama pada tahun 1945, dan Yamin dilantik untuk jabatan-jabatan yang penting dalam pemerintahannya.

3. A.A. Navis
http://www.kabarindonesia.com/gbrberita/200904/20090406221300.jpg

Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 – meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami.

Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Navis telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa dia tidak dbisa ikut Kongres di Bali. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka. Ia meninggalkan satu orang isteri, Aksari Yasin, yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni; Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini, serta 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.

4. Agus Salim
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGyfQwx2IVSZZoXCFSAc9Wkf7znX120wqlTK42lry6zyTh0DuNQfZVaHXrK3J8Aq5arn9-rjTGiVhr9hZ7sQPoLbGMwO0Pyn7DFQrv_2Kr46UIdb2rzKS0fLC1keT0U1pddgBgmQDgZxLA/s320/agus_salim.jpg

Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.
Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.

5. Yahya Dt. Kayo
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz8P9eC3blHn_CbfZ0LYHzqaL64TxeqAmwViCWT9qGSgXmZc3rvJRdEMcYClvN6_ffRU4Ck4MNd4uF4SJajwnNC7QQY1VIqa17YPEnSfmaKp-RIsna7stlvoD2O3QiumQ0R6OMqvd5SMQ/s1600/buku_koto_gadang.jpg

Dia diberi nama Yahya. Mengapa diberi nama oleh keluarganya yang kebetulan nama itu mengingatkan kita akan nama nabi-nabi. Kita tidak tahu. Cobalah renungkan nama-nama dua mamaknya yang terdahulu, Ibrahim dan Ismail. Dua-duanya jadi laras di IV Koto, Agam Tua. Sedangkan mamaknya yang gagal jadi Laras, namanya Lanjadin Katib Besar1, bukan bernama seperti nama nabi. Sewaktu dia lahir, baru dua tahun Jabatan Laras disandang oleh Tuanku Janaid St Dinegeri. Apakah memang nama Yahya telah di persiapkan agar jadi Laras? Walluhualam. Dia adalah putera sejati, artinya bapak dan ibunya orang Koto Gadang, yang di lahirkan di tengah-tengah kampung Koto Gadang pada 1 Augustus 1874, 10 tahun lebih dahulu dari kelahiran Haji Agus Salim. Ibunya bernama Bani, dan Bapaknya bernama Pinggir dari pesukuan Sikumbang. Di masa kecilnya telah dididik agar dianya sangat cinta kepada negerinya Koto Gadang, segala sesuatunya diperhatikannya dan di selidikinya benar-benar.


6. Rohana Kudus
http://stat.kompasiana.com/files/2010/04/rohana_kudus-246x300.jpg

Rohana Kudus (lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, 20 Desember 1884 – meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 pada umur 87 tahun) adalah wartawan Indonesia. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Rasjad Maharaja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu H. Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Ia adalah perdiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.
Rohana adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Walaupun Rohana tidak bisa mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya. Dalam Umur yang masih sangat muda Rohana sudah bisa menulis dan membaca, dan berbahasa Belanda. Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin, dan Arab-Melayu. Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetanga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat Belanda itu Rohana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Disini ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa yang sangat digemari Rohana.



7. Syarifah Nawawi


Syarifah lahir di Bukittinggi sekitar tahun 1896, anak dari Guru Nawawi gelar Soetan Ma’moer (1859-1928), seorang guru pribumi yang terkenal di Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi pada zaman kolonial. Nawawi menikah dengan seorang wanita Minang bernama Chatimah, istrinya satu-satunya. Dari perkawinan itu ia beroleh 9 anak: 6 laki-laki dan 3 perempuan.
Waktu Jepang masuk, Syarifah mengundurkan diri sebagai direktur Sekolah Kemajuan Istri. Mien Soedarpo (1994:53) menulis tentang kegiatan ibunya setelah itu: “Ia tetap [mengabdikan hidupnya] untuk memajukan pendidikan wanita dan anak-anak. Ibu aktif di Fujinkai, organisasi umum wanita yang ditopang oleh Jepang, ia kemudian aktif di Perwari, organisasi wanita yang didirikan tahun 1945. Di samping [itu], ia meneruskan kegiatan pendidikannya dan memberikan pengajaran kepada anak-anak perempuan serta wanita muda yang tidak mempunyai biaya pendidikan.” Bahkan ia “menyulap” rumahnya menjadi sekolah.
Syarifah Nawawi meninggal di Jakarta tgl. 17 April 1988 dalam usia 91 tahun. Anak-anaknya merawatnya sampai akhir hayatnya. Sumbangan Syarifah bagi perbaikan pendidikan wanita di tanah air diakui umum. Ia juga simbol emansipasi kaum wanita Minang—bukan emansipasi semu yang dibungkus mamangan adat dan pepatah petitih yang elok bunyinya itu. Syarifah menerima piagam penghargaan atas dedikasinya yang tak kenal pamrih bagi anak-anak perempuan yang putus sekolah. Potretnya tergantung di gedung Panti Trisula Perwari sebagai pengakuan atas jasa-jasanya. 

8. Buya HAMKA
http://rifafreedom.files.wordpress.com/2008/08/hamka1.jpg

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya, (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.
HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Ia lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.
Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.








9. Chairil Anwar
Chairil Anwar.jpg

Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ibunya bernama Solehah, Lahir di Situjuh, Payakumbuh dan ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Payakumbuh, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Chairil meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku [2]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.




















10. Mohammad Natsir

Mohammad Natsir (lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 – meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 pada umur 84 tahun) adalah perdana menteri kelima, pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan salah seorang tokoh Islam terkemuka di Indonesia.
Ayah Natsir bekerja sebagai pegawai pemerintahan di Alahan Panjang, sedangkan kakeknya seorang ulama. Natsir merupakan pemangku adat untuk kaumnya yang berasal dari Maninjau, Agam dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Ketika kecil, Natsir belajar di HIS Solok serta di sekolah agama Islam yang dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Tahun 1923-1927 Natsir mendapat beasiswa untuk sekolah di MULO, dan kemudian melanjutkan ke AMS Bandung hingga tamat pada tahun 1930. Di Bandung, Natsir berinteraksi dengan para aktivis pergerakan nasional antara lain Syafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem dan Sutan Syahrir. Pada tahun 1932, Natsir berguru pada Ahmad Hassan, yang kelak menjadi tokoh organisasi Islam Persis. Dengan keunggulan spritualnya, beliau banyak menulis soal-soal agama, kebudayaan, dan pendidikan.


11. Taufik Ismail
Taufik ismail.jpg

Taufiq Ismail, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935; umur 75 tahun, ialah seorang sastrawan Indonesia. Dilahirkan di Bukittinggi dan dibesarkan di Pekalongan, ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.
12. Tan Malaka
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8UuE6DlW8GrhPxpmJ2iu5zU34VJ4Lq89_ilq-Fxlio0ZHHEPl2BCUUafOs8hFDme52xH3W5lr79kA6BrYV9n24pmKusNPsplNbfOB6Gque1GoiKi2qGkC70xGtkIsbqnQSTi6CYC7uHjA/s1600/moh_natsir_pyo.jpg

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat, 19 Februari 1896 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 16 April 1949 pada umur 53 tahun) adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris. 

13. Rasuna Said

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2KqtW6tCZ6YJPBSyy226UQMdxadJVSgZx1qWGaKGY32rZCDUM1wy8YTBVMUBGesjzrVVmIey_p0UpqI5mlU6RWOvy3d3rPn-WkDScApq1XpN0DfvGOa71MBeNNRBz0cyffa7lp6wlW6_H/s1600/said.jpeg

Hajjah Rangkayo Rasuna Said (lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910 – meninggal di Jakarta, 2 November 1965 pada umur 55 tahun) adalah salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga merupakan pahlawan nasional Indonesia. Seperti Kartini, ia juga memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Sebagai Sekretaris cabang dan kemudian menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia (PERMI). Beliau sangat mahir dalam berpidato yang isinya mengecam secara tajam ketidak adilan pemerintah Belanda, sehingga beliau sempat ditangkap dan dipenjara pada tahun 1932 di H.R. Rasuna Said adalah seorang muda yang mempunyai kemauan yang keras dan berpandangan luas. Awal perjuangan beliau dimulai dengan beraktivitas di Sarekat RakyatSemarang.

Pada masa pendudukan Jepang, beliau ikut serta sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang yang kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.

H.R. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan, diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sejak 1959 sampai akhir hayat beliau.
H.R. Rasuna diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974. H.R. Rasuna Said meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan 6 cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul'Ain).


14. Gus tf Sakai

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTqwI5YvfxNpl3mV0loz903WtCz_k2XrBpG74hgAyCbtDzNiDhAjxrWKXlaGIwO1PEWl0FHXHJuCnRrrvoW8iCqj_SeY4L3N1dfrx-v_1G8rrumMDGgbc1onZSoMynU0EJYI8t1O37Pubu/s1600/index.jpeg

Gus tf Sakai nama dari orang tua Gustafrizal (lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, 13 Agustus 1965) adalah sastrawan Indonesia.
Bersama istrinya, Zurniati, ia memutuskan untuk hidup dan menetap di kampungnya bersama tiga anaknya: Abyad Barokah Bodi (L), Khanza Jamalina Bodi (P), dan Kuntum Faiha Bodi (P). Walaupun menetap di kota kecil Payakumbuh yang dikepung oleh tiga gunung.
Beberapa puisinya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman dan penghargaan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta 2004) serta Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk kumpulan cerpen Perantau (2007)
15. Gamawan Fauzi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSVYFaEafrMjkZyc8Dp_UJsw1sYXgtB6xADOUJjI6rv8ZQNF69SkZFEegMBKrx6RvFjNmWpluCKcK9NaR2xb2-PrBGZCdgNQ2TIFmxEUAACXBu9bdB8965IYOVLPzH0RKUSDb7lY2c8AOz/s1600/images.jpeg
Gamawan Fauzi, S.H., M.M., (lahir di Solok, Sumatera Barat, 9 November 1957; umur 52 tahun) adalah Menteri Dalam Negeri Indonesia sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia menjabat sebagai Gubernur Sumatra Barat sejak 15 Agustus 2005 hingga 22 Oktober 2009. Ia juga penerima Bung Hatta Award atas keberhasilannya memerangi korupsi pada saat menjadi bupati pada kabupaten Solok.
Riwayat Karier
  • Menteri Dalam Negeri Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-sekarang)
  • Gubernur Sumatera Barat (2005-2009)
  • Bupati Solok (1995-2000), (2000-2005)
  • Kepala Biro Humas Pemprov Sumatera Barat
  • Sekretaris Pribadi Gubernur Sumatera Barat
  • Staf biasa di Kantor Direktorat Sosial Politik (Ditsospol) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat



Sunday, 2 June 2013

SYEKH DJAMIL DJAMBEK


Syekh Djamil Djambek 
Ole
M. khairul amri
ferdi ferdian 

Muhammad Jamil dilahirkan pada tanggal 4 Januari 1863 di Kurai Bukittinggi. Berasal dan keluarga bangsawan. Ayahnya, Muhammad Saleh Dt. Maleka dan biasa dipanggil "Inyiak Kapalo Jambek" adalah seorang kepala nagari Kurai yang cukup disegani. Selain sebagai kepala nagari Kurai, ayah Muhammad Jamil juga berperan sebagai seorang datuak dalam suku Guci. Sedangkan ibunya, seorang transmigran dan Jawa, populer dipanggil dengan panggilan Cik. Muhammad Jamil memiliki seorang adik bernama Muhammad Mu'thi. Status ibunya yang secara genealogis bukan berasal dari Minangkabau yang matrilineal, membuat Muhammad Jamil bersama adiknya berada diluar garis keturunan. Namun oleh ayahnya, Dt. Maleka, hal demikian tidak dibiarkannya. Melalui upacara adat menurut tradisi yang berlaku di Minangkabau pada masa itu, ia kemudian memasukkan anak-anaknya tersebut ke dalam lingkungan sukunya sendiri, suku Guci. Status sosial yang mapan ditambah lagi dengan kurangnya dukungan pendidikan agama dari orang tuanya membuat Muhammad Jamil dikenal sebagai seorang yang nakal pada masa kecilnya. Kenakalan ini berlanjut hingga remaja. Ia terjerumus kepada kehidupan hedonistik seperti suka berfoya-foya, penjudi, dan peminum tuak, Dukungan finansial dan status sebagai warga terpandang mempermudah pola perilaku kehidupan seperti ini bagi Muhammad Jamil.
Pendidikan awal Muhammad Jamil dilaluinya di Sekolah Rendah Gubernement di Bukittinggi. Walaupun Muhammad Jamil memasuki sekolah ini pada usia 7 tahun, agaknya kurang menjamin bagi perobahan watak dan talenta-nya yang cenderung destruktif, hedonistik dan "keras kepala". Hal ini terlihat, setelah ia menamatkan pendidikannya di Sekolah Rendah ini, Muhammad Jamil tidak memiliki keinginan sama sekali untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Orang tuanya yang memiliki kelebihan materi tidak mampu membujuknya agar melanjutkan pendidikannya. Ia malahan, sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, kembali ke "habitat" awalnya dan memasuki pergaulan bebas pada masa itu. Ia telah terlanjur bangga disebut sebagai seorang parewa2 dan pamakan masak patah, suatu sebutan yang diidentikkan dengan parewa yang tidak mengenal aturan-aturan adat dan agama. Setelah Muhammad Jamil Jambek berumur 22 tahun, atas nasehat dari Tuangku Kayo Mandiangin, ia mulai berubah. Ia mulai mau belajar pendidikan agama, walaupun tingkat dasar. Suatu hal yang terlambat pada masa itu bagi anak-anak Minangkabau untuk seorang seusia Muhammad Jamil Jambek. Melalui Tuangku Mandiangin ini, ia belajar membaca al-Qur'an, belajar sholat dan mulai belajar bahasa Arab (Nahu Sharaf). Lambat laun, dengan mempelajari agama tingkat standar, Muhammad Jamil Jambek mulai menyadari bahwa rentang waktu masa kecil hingga remajanya adalah rentang waktu yang "mubazir". Keinginannnya untuk memperbaiki diri dan belajar agama Islam secara intens makin menggebu-gebu. Ketika ia berumur 25 tahun, ayahnya pergi menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Muhammad Jamil Jambek dibawa serta. Selama di Mekkah ini, ia memanfaatkan waktu untuk belajar pengetahuan agama kepada ulama-ulama disana. Pada awalnya, ia hampir terjebak untuk kembali kepada pola hidup waktu remajanya. Hal ini disebabkan karena ia terayu belajar ilmu sihir dari seorang keturunan Maroko. Namun berkat pengarahan-pengarahan yang diterimanya dad Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawy, Muhammad Jamil kembali ingat dengan tekadnya ketika ia berada dibawah tuntunan Tuangku Kayo Mandiangin dan tekadnya untuk belajar agama Islam ketika ia mau berangkat ke Mekkah.

            Selanjutnya, dengan antusias Muhammad Jamil Jambek belajar pada ulama-ulama yang cukup terkenal dan pintar pada masa itu, diantaranya H. Abdullah Ahmad, Syekh Bafadhal, Syekh Serawak, Khatib Kumango clan Syekh Thaher Jalaluddin. Dari ulama yang terakhir ini, ia belajar ilmu falak. Pelajaran yang diperolehnya dad Syekh Thaher Jalaluddin ini menempatkan ia dikenal sebagai ahli falak yang termasyhur di Minangkabau pada masanya. Kehidupan Muhammad Jamil Jambek yang kemudian dipanggil Syekh Muhammad Jamil Jambek penuh dengan dinamika. Pribadi kontroversial pada awalnya, akibat hidayah dari Allah SWT. dan keinginan yang keras untuk merubah dirinya ke arah yang lebih baik, pada akhimya menjadikan ia menjadi putra terbaik yang pemah dimiliki Minangkabau.

            Diskusi mengenai pembaharuan Islam di Minangkabau berarti secara tidak langsung menguak kembali aspek-aspek awal bagi pembaharuan Islam di Nusantara ini. Gerakan pembaharuan ini pada dasarnya adalah merupakan akibat logis dari ketidakpuasan terhadap pengamalan ajaran agama Islam yang telah melenceng dari ajaran yang sesungguhnya. Praktek-praktek khurafat merajalela. Disamping itu, timbul ketidakpuasan ulama pembaharu terhadap sistem sosial di Minangkabau dimana pihak mamak lebih besar peranannya dari Bapak yang timbul dari sistem garis keturunan matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Gerakan pembaharuan agama pada permulaan abad ke-XIX M. Gerakan ini kemudian disebut dengan gerakan Paderi, sebagai bentuk gelombang pertama pembaharuan Islam di Minangkabau. Gelombang pembaharuan gelombang kedua terjadi pada permulaan abad ke-XX M. Gerakan ini, disamping merupakan gerakan pemurnian aqidah, lebih jauh merupakan pembaharuan sistem pendidikan dan pemumian pelaksanaan hukum Islam. Sebagai pemeran utama dalam gerakan pembaharuan Islam gelombang kedua di Minangkabau adalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawy, seorang putra Minangkabau yang aktivitas hingga akhir hayatnya dijalankannya di Mekkah. Sebagai "otak" dari pembaharuan Islam di Minangkabau ini, ia tidak terjun secara iangsung, akan tetapi pemikiran-pemikirannya lebih banyak disebarkan melalui murid-mundnya seperti H. Abdul Karim Amrullah (HAKA), H. Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Jamil Jambek, H. Muhammad Thaib Umar dan lain-lain.
Syekh Muhammad Jamil Jambek sebagai salah seorang ulama pembaharu yang bergandengan dengan H. Abdul Karim Amrullah dan H. Abdullah Ahmad. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan ini Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah merupakan tokoh yang unik, la seolah-olah tidak begitu kelihatan dalam sejarah pendidikan pada dekade ini, oleh karena dari aktifitasnya tidak dibarengi dengan wadah pendidikan yang ia dirikan seperti yang dilakukan oleh teman-temannya yang lain. Walaupun pada saat-saat tertentu dan tidak begitu lama, Syekh Muhammad Jamil Jambek pemah juga memperkenalkan sistem pendidikan. Hal ini dilakukakannya setelah ia kembali dari Mekkah, di surau yang ia dirikan sendiri, yaitu di kawasan Tengah Sawah Bukittinggi.
Keterlibatan Syekh Muhammad Jamil Jambek dalam dunia politik secara intens berawal dari diperkenalkannya kebijakan Goeroe Ordonantie. Dr. de Vries dari kantor Advisieur Inlandsche Zaken datang ke Minangkabau untuk menyusupkan kebijakan Goeroe Ordonantie ini. Kebijakan ini dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru yang akan mengajar agama memiliki izin dari pemerintah. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengawasi sistem pendidikan Islam di Indonesia. Peraturan ini sempat diubah pada tahun 1925 dengan hanya mewajibkan para guru agama memberitahu kepada pemerintah. Misi yang dibawa Vries ini mendapat tantangan yang sangat keras dari tokoh-tokoh terkemuka Minangkabau masa itu, terutama dari kalangan ulama. Orang terdepan dalam soal ini adalah H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Dan agaknya beliau pulalah yang paling keras menantang diantara Trio Ulama pembaharu seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek dan Abdullah Ahmad. Syekh Muhammad Jamil Jambek kurang berani menyatakan ketegasannya dalam menolak kebijakan tersebut walaupun rapat-rapat untuk membicarakan hal ini dilaksanakan di surau beliau sendiri. Tentang sikap Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih jauh Hamka menjelaskan :"Kalau yang akan dibicarakan disurau beliau itu agak "hangat", maka beliau akan "demam" pada hari itu" (Hamka, 1982: 280). Ketidaktegasan Syekh Muhammad Jamil Jambek menyikapi kebijakan Goeroe Ordonansi ini pada hakikatnya karena posisinya yang cukup dilematis. Beliau memiliki hubungan yang cukup baik dengan pemerintah kolonial Belanda. Lebih lanjut Hamka mengatakan : "lebih baik dan lebih untung baginya, sebab dia sakit dihari itu, sebab baginya serba sulit. Hubungannya dengan pemerintah Belanda amat baik. Dia beroleh bintang".
Sistem politik pada ja;ur pendidikan ini disadari oleh kaum ulama pembaharu sebagai bahaya yang mengancam wadah dan sistem pendidikan agama. Lembaga-lembaga pendidikan Islam satu per-satu mulai ditinggalkan. Masyarakat mulai banyak mengarahkan perhatian mereka pada pendidikan barat yang menawarkan prospek-prospek yang baik terhadap masa depan. Altematif satu-satunya bagi ummat Islam saat ini adalah membenahi sistem pendidikan Islam. Berbagai konsepsi para ulama tentang pembaharuan pendidikan mulai pula diterapkan pada lembaga-lembaga pendidikan yang ada serta mendirikan sekolah-sekolah agama dengan sistem pengajaran yang tidak lagi menganut sistem belajar tradisional, demikian juga kurikulum pengajarannya mulai mendapat perhatian.
Di tengah gejolak semangat pembaharuan Islam dibidang pendidikan dan saat perhatian kalangan ulama terfokus untuk membenahi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada, Syekh Muhammad Jamil Jambek mengambil konsep lain dalam bidang ini. Ia berusaha memperlihatkan bahwa pengajaran agama Islam ini adalah hak semua orang yang mengaku beragama Islam bukan terbatas pada kalangan-kalangan tertentu yang terjangkau oleh fasilitas-fasilitas lembaga-lembaga pendidikan, la memiliki konsep pendidikan yang dijalankan dalam bentuk dakwah, tabligh dan ceramah. Konsep ini menurutnya adalah merupakan cara yang efisien untuk pemerataan pendidikan agama terhadap masyarakat yang terdiri dari dari berbagai lapisan dan tingkat pengetahuan, mulai dari yang tidak tahu tulis baca hingga kepada kalangan masyarakat berpendidikan dan juga dari berbagai tingkatan sosial clan ekonomi.

            Di suraunya di kawasan Tengah Sawah Bikittinggi, sampai saat ini sekali dalam seminggu diadakan jama'ah tetap yang khusus mempelajari ilmu-ilmu keagamaan. Pengikut jama'ah pengajian ini tidak saja berasal dari Bukittinggi akan tetapi juga berasal dari daerah-daerah disekitar Bukittinggi. Jama'ah pengajian ini sekarang dipimpin oleh anak Syekh Muhammad Jamil Jambek, Djamilah Jambek, tetap mempertahankan pola dan karakteristik pengajian yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Jamil Jambek.


            Kekuatan lain yang terdapat pada Syekh Muhammad Jamil Jambek adalah kemampuannya dalam bidang ilmu falak.
Kemampuan ini telah menempatkannya pada posisi perintis pengembangan ilmu ini di Indonesia. Hal yang demikian dapat dilihat dari buah karyanya, baik dar hasil perhitungan hisab yang ia keluarkan, maupun murid­-muridnya yang pada saat ini cukup dikenal dengan hasil perhitungan hisabnya di Indonesia. Konsep dan usaha Syekh Muhammad Jamil Jambek baik dalam bidang pendidikan agama maupun pada bidang ilmu falak, dalam skala yang luas tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan di Indonesia. Apa yang telah ia perbuat bagi masyarakatnya di Bukittinggi khususnya dan Minangkabau pada umumnya, baik sebagai ulama pelopor pendidikan melalui dakwah dan tabligh maupun sebagai ulama pembaharu Islam yang menonjol dalam bidang ilmu falak --- sebagai ilmu yang langka dimiliki oleh ulama-­ulama seangkatannya -- telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan agama Islam dalam perkembangan sejarahnya di Indonesia.
Syekh Muhammad Jamil Jambek pemah juga memperkenalkan sistem pendidikan. Hal ini dilakukakannya setelah ia kembali dari Mekkah, di surau yang ia dirikan sendiri, yaitu di kawasan Tengah Sawah Bukittinggi.
Keterlibatan Syekh Muhammad Jamil Jambek dalam dunia politik secara intens berawal dari diperkenalkannya kebijakan Goeroe Ordonantie. Dr. de Vries dari kantor Advisieur Inlandsche Zaken datang ke Minangkabau untuk menyusupkan kebijakan Goeroe Ordonantie ini. Kebijakan ini dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru yang akan mengajar agama memiliki izin dari pemerintah. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengawasi sistem pendidikan Islam di Indonesia. Peraturan ini sempat diubah pada tahun 1925 dengan hanya mewajibkan para guru agama memberitahu kepada pemerintah. Misi yang dibawa Vries ini mendapat tantangan yang sangat keras dari tokoh-tokoh terkemuka Minangkabau masa itu, terutama dari kalangan ulama. Orang terdepan dalam soal ini adalah H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Dan agaknya beliau pulalah yang paling keras menantang diantara Trio Ulama pembaharu seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek dan Abdullah Ahmad. Syekh Muhammad Jamil Jambek kurang berani menyatakan ketegasannya dalam menolak kebijakan tersebut walaupun rapat-rapat untuk membicarakan hal ini dilaksanakan di surau beliau sendiri. Tentang sikap Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih jauh Hamka menjelaskan :"Kalau yang akan dibicarakan disurau beliau itu agak "hangat", maka beliau akan "demam" pada hari itu" (Hamka, 1982: 280). Ketidaktegasan Syekh Muhammad Jamil Jambek menyikapi kebijakan Goeroe Ordonansi ini pada hakikatnya karena posisinya yang cukup dilematis. Beliau memiliki hubungan yang cukup baik dengan pemerintah kolonial Belanda. Lebih lanjut Hamka mengatakan : "lebih baik dan lebih untung baginya, sebab dia sakit dihari itu, sebab baginya serba sulit. Hubungannya dengan pemerintah Belanda amat baik. Dia beroleh bintang".
Di suraunya di kawasan Tengah Sawah Bikittinggi, sampai saat ini sekali dalam seminggu diadakan jama'ah tetap yang khusus mempelajari ilmu-ilmu keagamaan. Pengikut jama'ah pengajian ini tidak saja berasal dari Bukittinggi akan tetapi juga berasal dari daerah-daerah disekitar Bukittinggi. Jama'ah pengajian ini sekarang dipimpin oleh anak Syekh Muhammad Jamil Jambek, Djamilah Jambek, tetap mempertahankan pola dan karakteristik pengajian yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Jamil Jambek.

            Kekuatan lain yang terdapat pada Syekh Muhammad Jamil Jambek adalah kemampuannya dalam bidang ilmu falak.
Kemampuan ini telah menempatkannya pada posisi perintis pengembangan ilmu ini di Indonesia. Hal yang demikian dapat dilihat dari buah karyanya, baik dar hasil perhitungan hisab yang ia keluarkan, maupun murid­-muridnya yang pada saat ini cukup dikenal dengan hasil perhitungan hisabnya di Indonesia. Konsep dan usaha Syekh Muhammad Jamil Jambek baik dalam bidang pendidikan agama maupun pada bidang ilmu falak, dalam skala yang luas tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan di Indonesia. Apa yang telah ia perbuat bagi masyarakatnya di Bukittinggi khususnya dan Minangkabau pada umumnya, baik sebagai ulama pelopor pendidikan melalui dakwah dan tabligh maupun sebagai ulama pembaharu Islam yang menonjol dalam bidang ilmu falak --- sebagai ilmu yang langka dimiliki oleh ulama-­ulama seangkatannya -- telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan agama Islam dalam perkembangan sejarahnya di Indonesia.


Powered by Blogger.