Terima Kasih Telah Mampir Di Blog MUHAMMAD KHAIRUL AMRY. Semoga apa yang sobat cari ditemukan disini. Jangan lupa kritik dan saran untuk perbaikan Blog ini kedepannya. Thankss...

Thursday, 23 May 2013

BACAAN ASYIK (TRUE LOVE STORY)


 
Di kota Suffah tinggallah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah. Setiap hari ia tinggal di masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan hingga di usianya yang ke 35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid tengah mengasah pedangnya, tiba-tiba Rosulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya. Zahid kaget dan menjawabnya dengan gugup, “Wa’alaikumsalam ya Rasulullah...”

“Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau tampak sendiri saja,”  sapa Rosulullah.

“Allah bersamaku, wahai Rasulullah,” jawab Zahid.

“Maksudku, mengapa selama ini engkau masih melajang? Apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah?” tanya beliau lagi.

Zahid menjawab,  “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat. Siapa wanita yang mau denganku?”

“Mudah saja kalau kau mau!” kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat lamaran untuk melamar seorang wanita bernama Zulfah bin Said. Ia anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itu pun segera diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada ayah Zulfah, Said. Setiba disana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

“Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasul yang mulia,” kata Zahid.

Said menjawab, “Ini adalah kehormatan buatku.”

Surat itu dibuka dan dibacanya. Alangkah terperanjatnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran, karena dalam tradisi Arab selama ini pernikahan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus menikah dengan keturunan bangsawan pula (sekufu).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihatku berbohong?”

Dalam suasana demikian putri Said, Zulfah, datang dan bertanya, “Ayah, mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini?”

“Anakku, ia adalah pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya,” kata ayahnya.

Di saat itulah Zulfah melihat Zahid. Seketika itu iapun menangis sejadi-jadinya. “Ayah, banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya. Semuanya menginginkan aku. Aku tak mau ayah!”  jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, “Saudaraku, bukannya aku hendak menghalanginya tapi engkau dengar sendiri anakku merasa keberatan. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah bila lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasulullah disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, “Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah?”

Said pun menjawab, “Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah.”
Serta merta Zulfah mengucap istighfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Lirih, ia berkata pada sang ayah, “Mengapa ayah tak mengatakannya dari tadi bila yang melamarkan lelaki itu Rasulullah. Kalau begitu, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah,

“Sesungguhnya jawaban orang2 mukmin bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-NYA, agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan, KAMI MENDENGAR DAN KAMI PATUH. Dan mereka itulah orang2 yang beruntung” (An Nur : 51).

Mendengar hal itu hati Zahid melambung entah kemana. Ada semburat suka cita tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia sujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?” tanya Rasulullah.

“Alhamdulillah diterima, wahai Rasulullah,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?” tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Rasulullah, aku tidak memiliki apa-apa.”

Rasulullah pun menyuruhnya ke rumah Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup. Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan pernikahan.

Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk maju berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam. Ketika Zahid sampai di masjid, ia melihat kaum muslimin tengah bersiap dengan persenjataannya.

Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Seorang sahabat menjawab, “Zahid, hari ini orang kafir akan menyerang kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya?”

Zahid pun beristighfar beberapa kali kemudian berkata, “Kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan pernikahan ini dan aku akan membeli kuda yang terbaik.”

“Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu, apakah engkau hendak pergi juga?” kata para sahabat mengingatkan.

“Tidak mungkin aku berdiam diri dalam situasi seperti ini!” jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid membaca ayat: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-NYA dan (dari) berjihad dijalan-NYA. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNYA. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At Taubah : 24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan tempur sampai ia gugur.

Setelah mengetahui berit gugurnya Zahid, Rasulullah berkata, “HARI INI ZAHID SEDANG BERBULAN MADU DENGAN BIDADARI YANG LEBIH CANTIK DARIPADA ZULFAH.”

Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imron ayat 169-170 dan Al Baqarah ayat 154 :

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

Para sahabat pun meneteskan airmata.

Lalu bagaimana dengan Zulfah? Mendengar kabar kesyahidan Zahid, iapun menangis haru dan tulus berucap, “YA ALLAH, ALANGKAH BAHAGIANYA CALON SUAMIKU ITU. ANDAI AKU TAK DAPAT MENDAMPINGINYA DI DUNIA, IZINKANLAH AKU MENDAMPINGINYA DI AKHIRAT KELAK.”

Demikian pintanya. Sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah, meski semula hati berontak.


0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.