Terima Kasih Telah Mampir Di Blog MUHAMMAD KHAIRUL AMRY. Semoga apa yang sobat cari ditemukan disini. Jangan lupa kritik dan saran untuk perbaikan Blog ini kedepannya. Thankss...

Tuesday, 23 April 2013

agama dan semangat ekonomi ( SOSIOLOGI AGAMA )




MAKALAH

Sosiologi Agama

TENTANG

Agama Dan Semangat Ekonomi








Oleh

Muhammad khairul amri
510.004



Dosen Pembimbing
Drs. H. Djaja Sukma
Sepriyono S.Ag, M.Pd




JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1430 H/ 2009 M


Pendahuluan
            Kapitalisme, sebuah konsep ekonomi yang terbilang kontroversial, namun sulit untuk digugat keberadaannya. Sifat dinamis dan adaptifnya mempercepat proses akulturasi dan transformasinya dengan sistem ekonomi di negara-negara lain, sekaligus menjadi ciri kapitalisme itu sendiri.
            Perkembangan pesat Kapitalisme tidak bisa lepaskan dari perubahan perubahan yang terjadi selama beberapa dekade, terutama di awal abad 20, dimana tekanan dari sistem ekonomi sosialisme dan komunisme terhadap penekanan yang berlebihan atas peran individu telah merubah bentuk gerakan Kapitalisme dari peran individu ke pasar dan pentingnya intervensi pemerintah.
            Peran penting konsep-konsep yang diajukan Max Weber, yaitu mengenai peran dan pengaruh keagamaan atas semangat Kapitalisme pada individu-individu maupun komunitas-komunitas masyarakat tidak bisa dinafikan dalam hal ini.
             Begitu pentingnya peran Weber dalam transformasi kapitalisme, sehingga elaborasi lebih lanjut bagi konsep Weber menjadi kemestian dan keharusan dalam makalah ini.           







TESIS WEBER

A.    Islam Dan Etika Ekonomi
Buku Weber yang terkenal berjudul the protestant ethic and the spirit of vapitalism yang diterbitkan pada tahun 1904, di sinilah dia mulai melangkah atau mengawali karirnya sebagai sejarawan ekonomi dan ahli sosiologi.[1]
Weber, dalam usahanya untuk menyusun suatu studi yang menyeluruh tentang hubungan agama dengan struktur dinamik masyarakat, Weber mengadakan penelitian secara mendalam tentang agama-agama besar di dunia, tetapi ia sama sekali tidak sempat membuat studi yang mendalam tentang Islam.[2]
Tak sepenuhnya Weber sanggup melepaskan diri dari etnosentrisme eropanya. Khususnnya terhadap islam dan agama-agama di Asia yang lain tampak sangat terbatas kemungkinan untuk memakaikan pendekatan verstehen terhadap sesuatu yang asing. Tapi usahanya ini telah banyak membantu persoalan dalam berbagai realitas social. Sedangkan dalam studi-studi tentang Indonesia, jasa Weber dapat terlihat pada uraian-uraian sosiologis dan antropologis.
Teorinya ini telah berjasa dalam membebaskan sejarah Indonesia dari dominasi filologi dan mengubah perspektif dalam ilmu sejarah. Selanjutnya teori Weber juga dipakai dalam usaha untuk mengerti hubungan antara perilaku dan perkembangan ekonomi dan kesadaran rohaniah antara strukutur sosial ekonomi dan doktrin yang dipercayai.
Weber juga beranggapan bahwa islam adalah agama dari para prajurit. Bagi Islam-awal kelas prajurit ini secara jelas membentuk pula suatu komunitas agama. Jadi Islam yang sesungguhnya adalah agama yang didukung oleh kelompok status tertentu[3]
Yang pertama sekali memakai teori Weber di Indonesia dalam usahanya dalam menganalisa Islam di Indonesia ialah D.M.G. Koch, ia adalah salah seorang sosialis Belanda. Ia mencoba memakai analisa Weber dalam menguraikan munculnya serikat Islam di kalangan para pedagang di Surakarta.[4]

B.     ETIKA PROTESTAN DAN SEMANGAT KAPITALISME
Weber mengatakan bahwa semangat kapitalism berbeda dengan ajran katolik, seperti yang diajukan oleh Santo Thomas Aquino. Yang melihat kerja sebagai suatu keharusan demi kelanjutan hidup, maka calvinisme, terutama “sekte” puritanisme. Melihat kerja sebagai beruf (panggilan), maka kerja tidaklah sekedar pemenuhan keperluan, tetapi suatu tugas yang suci. Pensucian kerja, (perlakuan terhadap kerja sebagai suatu usaha keagamaan yang akan menjamin kepastian dalam diri dalam suatu keselamatan. Berarti mengingkari sikap hidup keagamaan yang melarikan diri dari dunia. Sikap hidup yang ascesticism, yaitu intensifikasi pengabdian agama yang di jalankan dalam kegiatan kerja. Sedangkan kegairahan kerja adalah sebagai suatu kegembiraan dan pernyataan dari manusia yang terpilih. Dalam kerangka pemikiran teologis seperti ini, maka semangat kapitalisme yang berdasarkan kepada cinta ketekunan, hemat, berperhitungan, rasional, dan sanggup menahan diri, menemukan pasangannya, sukses hidup, yang dihasilkan oleh kerja keras bisa pula dianggap sebagai pembaharuan bahwa ia, sipemeluk, adalah orang yang terpilih.
Kapitalisme juga adalah sistem perekonomian yang menekankan peran kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang yang digunakan dalam produksi barang lainnya[5].  Ebenstein menyebut kapitalisme sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar sistem perekonomian.[6] Ia mengaitkan perkembangan kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme. Sedangkan Hayek  memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi.[7]
Terjalinnya etika protestan dengan semangat kapitalisme dimungkinkan oleh proses rasionalisasi dunia. Penghapusan usaha megis, yaitu berupa manipulasi kekuatan supernatural atau sebagai alat untuk mendapatkan suatu keselamatan. Dari sudut moral politik tentu saja muncul suatu observasi bahwa semangat kapitalisme pada tingkat lebih lanjut adalah basis dari kolonialisme dan imperialisme.
C.    Beberapa Kritikan Terhadap Tesis Weber Tentang Etika Protestan Dan Kapitalisme
Para teolog Kristen mengajukan keberatan mereka terhadap interprestasi Weber mengenai doktrin protestan. Dengan tegas mereka menyatakan bahwa ajaran-ajaran dari para teolog yang disebut Weber sama sekali tidak bermaksud mengarahkannya kepada keperluan ekonomi.[8]
Telaah Weber dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, meski memiliki kontribusi bagi transformasi kapitalisme, namun sulit terealisasi, jika unsur asketis Calvinis yang ditonjolkan Weber tidak ada dalam suatu tradisi ataupun agama. Agama Budha, misalnya, membebaskan manusia dari “roda”, dari lingkaran abadi kematian dan kelahiran kembali, melalui kontemplasi dan penghancuran kehendak individu. Akibatnya ia merepresentasikan tipe asketisme yang secara diametral bertentangan dengan Calvinis. Begitu pula dengan konsep “Zakat” dan “Sedekah” dalam Islam, yang menjadi batas bagi kepemilikian individu, melalui distribusi harta kepada fakir dan miskin sebagai bentuk keadilan sosial secara diametral bertentangan dengan Calvinis.
 Selain itu, Weber cendrung memperhatikan perbedaan sosio-ekonomi pada tesisnya pada pihak yang berlawanan pada hubungan antara kondisi sosial dan dogma. Kecenderungan ini dibawa sampai kepada tingkat pemahaman dimana perbedaan antara Timur dan Barat,  dibawah semua perbedaan iman, terutama merupakan masalah kelas.
AFTAR PUSTAKA

Husein, machnun Sosiologi Agama, Prenada Media, 2004

Abdullah, Taufik. Tesis Weber Dan Islam Di Indonesia, Rajawali Pres Jogjakarta,
Bagus, L., Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta, 1996.
Hayek, F.A., The Prinsiples of A Liberal Social Order, dalam Anthony de Crespigny and Jeremy Cronin, Ideologies of Politics, Oxford University Press, London, 1978. 
Ebenstein, W., Isme-Isme Dewasa Ini, (terjemahan), Erlangga, Jakarta, 1990




[1] Machnun Husein, Sosiologi Agama, Prenada Media, 2004,Hlm: 205
[2] Taufik Abdullah, Tesis Weber Dan Islam Di Indonesia, Rajawali Pres Jogjakarta, Hlm: 19
[3] op,cit
[4] Taufik Abdullah, Tesis Weber Dan Islam Di Indonesia, Rajawali Pres Yogyakarta, Hlm: 28
[5] Bagus, L., Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta, 1996.
[6] Ebenstein, W., Isme-Isme Dewasa Ini, (terjemahan), Erlangga, Jakarta, 1990.
[7] Hayek, F.A., The Prinsiples of A Liberal Social Order, dalam Anthony de Crespigny and Jeremy Cronin, Ideologies of Politics, Oxford University Press, London, 1978. 
[8] ibid,…..Hlm:12

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.