Terima Kasih Telah Mampir Di Blog MUHAMMAD KHAIRUL AMRY. Semoga apa yang sobat cari ditemukan disini. Jangan lupa kritik dan saran untuk perbaikan Blog ini kedepannya. Thankss...

Saturday, 13 April 2013

ETIKA ISLAM


A.    Latar belakang
Etika islam merupakan suatu moral atau perilaku dalam islam yang harus dimilki oleh setiap muslim dalam menjalankan setiap aktifitasnya sehari-hari yang bersumberkan pada al-Quran dan sunnah rasulullah saw.
Etika juga merupakan suatu ajaran moral atau usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya untuk memecahkan bagaimana ia harusbersikap kalau ia mau menjadi orang yang baik yang sesuai dengan karakteristik etika islam.
B.     Tujuan
1.      Memenuhitugas kepada pembimbing mata kuliah akhlak
2.      Untuk mengetahui apa saja kriteria yang ada dalam Etika Islam itu agar lebih memantapkan pemahaman orang tentang hal ini  


KARAKTERISTIK ETIKA ISLAM

A.     Al-Quran dan Sunnah Sumber Islam
Sebagai sumber moral atau pedoman hidup dalam islam yang menjelaskan kriteria baik buruknya sesuatu perbuatan adalah alquran dan sunnah rasulullah saw. Kedua dasar itulah yang menjadi landasan dan sumber ajaran islam secara keseluruhan sebagai pola hidup dan menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk.
Al-qurannul Karim bukanlah hasil renungan manusia melainkan Firman Allah yang Maha Pandai dan Bijaksana. Oleh sebab itu setiap muslim berkeyakinan bahwa ajaran kebenaran terkandung didalam kitabullah al-Quran yang tidak akan dapat ditandingi oleh pikiran manusia.
Sebagaimana firman Allah:



Artinya: Sesungguhnya telah datang kepadamu sekalian dari hadirat Allah, suatu cahaya yang terang dan kitab yang menerangkan. Dengan(kitab) itu Allah menunjuki orang yang menurut keridhaan-Nya kepada jalan kesejahteraan, dan kitab itu mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang dengan izin-Nya dan kitab itu menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.( Qs al-maidah:15-16)
Sebagai pedoman kedua sesudah al-Quran adalah Hadits Rasulullah saw. (Sunnah Rasul) yang meliputi perkataan dan tingkah laku beliau. Hadits nabi saw juga dipandang sebagai lampiran penjelaan dari al-Quran.
Hadits sebagai pedoman hidup muslim dijelaskan dalam al-Quran:

Dan apa yang didatangkan oleh rasul kepadamu ambillah olehmu fdan apa yang dilarangnya kepada kamu jauhilah.(QS.al-Hasyr:7) 
Maka telah jelaslah bahwa al-Quran dan sunnah rasul adalah pedoman hidup yang menjadi azas bagi setiap muslim dan merupakan sumber moral dalam islam.

B.Kedudukan Akal Dan Naluri
Berbeda dengan teori etika yang memandang bahwa akal dan nalurilah yang menjadi dasar menentukan baik dan buruknya akhlak, maka ajaran etika islam berpendirian sebagai berikut:
a.       Akal dan naluri manusia adalah anugerah Allah
b.      Akal pikiran manusia terbatas sehingga pengetahuan manusia pun tidak akan mampu memecahkan seluruh masalah yang maujud ini:


Dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan, melainkan sedikit sekali.(QS.al-isra’:85)  
Karena itu akal masih memerlukan bimbingan dan cahaya petunjuk dari sumber kebenaran yang mutlak yang lebih utama yakni wahyu atau kitabullah. Hanya akal yang dipancari oleh cahaya al-Quran dan petunjuk rasul akan memperoleh kedudukan yang tepat dan akan dapat menemukan kedudukannya yang benar dan tepat.
c.       Naluri manusia pun harus mendapatkan pengarahan dari petunjuk Allah yang dijelaskan dalam kitab-Nya. Jika tidak, naluri itu akan salah dala penyalurannya. Misalnya naluri makan, naluri seksual, naluri berjuang dan lain-lainnya, jika diperturutkan begitu saja akan menimbulkan kerusakan. Tetapi jika diarahkan menurut petunjuk-Nya, niscaya akan tetap berjalan diatas fitrahnya yang suci.
d.      Demikianlah kedudukan naluri dan akal dalam pandangan Etika Islam, bahwa keduanya perlu dimanfaatkn dan disalurkan sebaik-baiknya dengan bimbingan dan pengarahan yang ditetapakan dalam al-Quran dan Sunnah Nabi saw.
C.Motivasi Iman
Tindakan dan pekerjaan manusia selalu didorong oleh suatu motivasi tertentu. Motivasi itu bermacam-macam, ada yang karena kepentingan kekayaan, ingin masyur namanya dan lain sebagainya. Adapun dalam pandangan islam yang menjadi pendorong yang paling dalam dan paling kaut untuk melakukan sesuatu amal perbuatan yang baik adalah aqidah, iman yang terpatri dalam hati. Iman itulah yang membuat seorang muslim ikhlas, mau bekerja (beramal)keras bahkan rela berqurban. Iman itulah sebagai motivasi dan kekuatan penggerak yang paling ampuh dalam pribadinya yang membuat dia tidak dapat diam dari melakukan kegiatan kebajikan dan amal shaleh.
Jika “motor iman” itu bergerak maka keluarlah produksinya yaitu amal shaleh dan akhlaqul karimah. Dengan demikian hanya dari jiwa yang dihayati iman dapat diharapkan memancar kebaikan dan kebajikan yang sebenarnya. Kebaikan yang lahir tanpa bersumber kepada keimanan, adalah kebaikan yang tidak mendapatkan penilaian dari Allah. Dengan iman itulah maka seorang mukmin selalu antusias berbuat baik sebanyak-banyaknya. Sabda rasulullah saw.


Sekali-kali tidaklah seorang mukmin akan merasa kenyang atau puas mengerjakan kebaikan, menjelang puncaknya memasuki surga.(H.R Tirmidzi)

D. Mata Rantai Akhlak
            Dengan motivasi iman, terdoronglah seorang mukmin mengerjakan kebaikan sebanyak-banyaknya menurut kemampuan tenaganya. Dalam memanifestasikan iman tersebut terdapat “mata rantai” yang berkaitan dengan realisasinya, yakni: niat(keikhlasan) dalam hati dan pembuktian dengan amal perbuatan yang dilaksanakan oleh anggota tubuh.
Sebelum melakukan suatu tindakan harus didahului dengan niat untuk apa pekerjaan itu dilakukan. Dalam hubungan ini islam menggariskan perbuatan niat yang perbuatan itu dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah.
Demikian rasulullah menggariskan:


            Sesungguhnya amal itu menurut niat dan sesungguhnya bagi manusia(akan memperoleh sesuatu)menurut apa yang diniatkan.(Muttafaq ‘alaih)
Setelah niat itu terpasang baik dalam hati, bergeraklah anggota tubuh(jasmani) mengerjakan kebaikan memprodusir kebajikan sesuai dengan yang diniatkan itu. Dengan perkataan lain bahwa hanyalah perbuatan yang disertai niat, yang dapat diterima dan dapat dipertanggung jawabkan. Amal tanpa niat tidak mendapatkan penilaian dalam Etika Islam

E. Tujuan Luhur Etika Islam
            Sesuai dengan pola hidup yang diajarkan islam, bahwa seluruh kegiatan hidup atau kematian sekalipun semata-semata dipersembahkan kepada Allah. Ucapan yang selalu dinyatakan dalam do’a iftittah shalat merupakan bukti nyata bahwa tujuan yang tertinggi dari segala tingkah laku menurut pandangan Etika Islam adalah mendapatkan ridha Allah swt.
            Jika seorang muslim mencari rezki bukanlah sekedar untuk mengisi perut bagi diri dan keluarganya. Pada hakikatnya dia mempunyai tujuan yang lebih tinggi atau tujuan filosofis. Dia mencari rezki untuk memenuhi hajat hidupnya itu barulah tujuan yang dekat dan masih ada tujuan yang lebih tinggi lagi. Dia mencari rizki untuk mendapatkan makanan guna membina kesehatan rohani dan jasmani, sedangkan tujuan membina kesehatan itu ialah supaya kuat beribadah dan beramal, yang dengan amal ibadah itulah dia dapat mencapai tujuan yang terakhir yakni ridha Allah swt. Jika dia belajar bukan hanay sekedar untuk memiliki ilmu. Ilmu itu akan menjadi “Jembatan Emas” dalam membina taqwa dan taqarrub kepada Allah swt. Supaya menjadi insane yang diliputi ridha illahi. Tegasnya segala niat dan gerak-gerik bathin dan tindakan lahir dalam Etika Islam. Haruslah selalu terarah kepada ridha Allah., dan jalan taqwa yang ditempuhnya itulah jalan yang lurus.
            Ridha Allah itulah yang menjadi kunci kebahagiaan yang kekal dan abadi yag dijanjikan Allah dan yang dirindukan oleh setiap manusia beriman. Tanpa ridha Allah maka kebahagiaan abadi dan sejati (surga) tidak akan daapt diraih. Panggilan ini dikemukakan Allah dalam al-Quran:



            Hai jiwa yang tenang tentram! Kembalilah kepada tuhanmu dalam keadaan senang(kepada tuhan0 dan disenangi (oleh Tuhan)! Sebab itu, masuklah kedalam hamba-hamba-Ku! Dan masuklah kedalam surge-Ku.(QS. Al-Fajr:27-30)
BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN
Yang menjadi karakteristik Etika Islam itu adalah:
·         Al-Quran dan Sunnah Sumber Moral
·         Kedudukan akal dan naluri
·         Motivasi Iman
·         Mata Rantai Akhlak
·         Tujuan Luhur Etika Islam
Beberapa poin di ataslah yang dijadikan ukuran untuk menentukan sikap  mana yang baik dan buruknya. Setiap apa yang kita lakukan harus bersumber pada al-Quran dan sunnah rasulullah.
B.     Saran
Banyak lagi referensi mengenai Karakteristik Etika Islam ini dan penulis menyadari masih banyak lagi kekurangan-kekurangannya untuk itu penulis berharap ada kritikan atau saran yang membangun. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

















DAFTAR PUSTAKA
Ya’qub, Hamzah.1993. Etika Islam Pembinaan Akhlaqul Karimah. Bandung: Diponegoro

1 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.